Skip to content
Ringkasan

Ringkasan

Ringkasan Berita

Primary Menu
  • Beriklan di Sini
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Peta Situs
  • Home
  • Kesehatan
  • Gejala, Pemicu, dan Cara Mengatasinya
  • Kesehatan

Gejala, Pemicu, dan Cara Mengatasinya

tigerwebs 14 Agustus 2022 4 minutes read
Gejala, Pemicu, dan Cara Mengatasinya

Beranda / Penyakit A-Z / Epilepsi Fotosensitif: Gejala, Pemicu, dan Cara Mengatasinya


Epilepsi fotosensitif adalah epilepsi yang terjadi karena kilatan cahaya dan kontras pola terang dan gelap. Ketahui lebih lanjut tentang masalah kesehatan ini di komentar berikut.

Epilepsi Fotosensitif: Gejala, Pemicu, dan Cara Mengatasinya

Memahami Epilepsi Fotosensitif

Epilepsi adalah salah satu gangguan otak yang paling umum terjadi di dunia. Akibat lonjakan aktivitas listrik di otak, penderitanya dapat mengalami kejang-kejang.

Melansir WebMd, ada 1 dari 100 orang di Amerika menderita epilepsi. Sekitar 3 sampai 5 persen dari mereka menderita epilepsi fotosensitif atau epilepsi fotosensitif.

Kondisi ini rentan menimpa anak-anak dan remaja karena kasusnya ditemukan hingga 5 persen. Sementara itu, sesorang yang berusia di atas 20 tahun jarang terdiagnosis epilepsi ini.

Selain itu, wanita lebih berisiko daripada pria. Namun, gejala kejang pada pria bisa lebih parah. Hal ini diperkirakan terjadi karena pria lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain video game.

Hal-hal yang Memicu Epilepsi Fotosensitif

Kejang epilepsi dapat mengganggu aktivitas, memengaruhi keselamatan, dan masih banyak lagi efek negatif lainnya.

Oleh karena itu, Anda perlu mengenali pola atau situasi yang dapat memicu terjadinya kejang-kejang.

Pada kasus epilepsi fotosensitif, pemicu kejadian kejang bisa sangat beragam. Namun, secara umum, berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menimbulkan gejala kambuh:

  • Sebuah kilatan cahaya.
  • Pola cerah dan kontras, misalnya pola putih dengan latar belakang hitam.
  • Cahaya putih berkedip, lalu dilanjutkan dengan kegelapan.
  • Gambar mencolok yang memengaruhi indra penglihatan.

Baca Juga: Cara Mengatasi Tremor di Usia Muda, dari yang Alami Hingga Medis

Beberapa contoh pemicu epilepsi ini, antara lain:

  • Lampu bioskop atau klub malam.
  • Layar TV dan monitor.
  • Lampu yang berkedip pada mobil polisi, ambulans, mobil pemadam kebakaran, dan alarm keselamatan.
  • Efek visual yang ada di dalam film, acara TV, atau video game.
  • Cahaya terlihat dari kipas yang bergerak.
  • Sinar matahari yang dilihat dari tirai miring.
  • Kamera dengan kilatan lampu dalam jumlah banyak.
  • Kembang api.
  • Sinar matahari yang dilihat melalui daun pohon.

Tak hanya itu, seseorang yang memiliki epiepsi fotosensitif juga dapat mengalami kekambuhan gejala jika mengalami beberapa kondisi berikut:

  • Bermain video game terus-menerus.
  • Kelelahan.
  • Mabuk.

Gejala Epilepsi Fotosensitif

Ada berbagai jenis tipe kejang yang dapat dialami penderita epilepsi. Pada epilepsi fotosensitif, kejang yang umumnya terjadi adalah kejang klonik tonik (kejang grand mal). Kejang tipe ini mulanya memengaruhi satu sisi otak, lalu menyebar hingga ke dua sisi otak.

Kejang dapat berlangsung hingga lebih dari 5 menit. Beberapa gejalanya berupa:

  • Kehilangan kesadaran. Pada kondisi ini, penderita bisa sampai jatuh ke tanah.
  • kontraksi otot dan tubuh menegang.
  • Perubahan pada pola napas.
  • Berteriak.
  • Menggigiti lidah dan bagian dalam pipi.
  • Anggota badan tersentak.
  • Kehilangan kontrol pada kandung kemih.

Setelah fase kejang berakhir, otot akan relaks. Penderita epilepsi pun dapat mengalami hal-hal berikut:

  • Bingung.
  • Merasa lelah.
  • Sakit kepala.
  • Merasa sakit.
  • Hilang ingatan dalam waktu singkat.

Waktu pemulihan setiap orang akan berbeda-beda. Sebagian orang mungkin akan langsung melanjutkan aktivitasnya, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan waktu untuk rehat sejenak dari rutinitas.

Baca Juga: 8 Penyebab Kejang pada Anak yang Harus Diwaspadai Orang Tua

Cara Mengobati Epilepsi Fotosensitif

Sebenarnya tidak ada obat khusus yang dapat menangani epilepsi fotosensitif. Namun, obat antiepilepsi (AED) diketahui dapat mengurangi frekuensi kejang pada pasien.

Selain itu, pasien juga bisa menghindari rangsangan pemicu kejang untuk mencegah kekambuhan gejala. Jika tidak sengaja terkena pemicu, Anda bisa menutup mata segera. Sebisa mungkin, jauhi sumber gangguan.

Kini Anda sudah mengetahui apa itu epilepsi fotosensitif. Umumnya gejala bisa mereda tanpa memerlukan batuan medis. Namun, jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Semoga bermanfaat!

  1. Anonim. Apa Itu Epilepsi? https://www.epilepsy.com/what-is-epilepsy. (Diakses pada 11 Agustus 2022).
  2. Anonim. 2019. Epilepsi fotosensitif. https://epilepsysociety.org.uk/about-epilepsy/epileptic-seizures/seizure-triggers/photosensitive-epilepsy#. (Diakses pada 11 Agustus 2022).
  3. Hart, Tracy, & Santos-Longhurst, Adrienne. 2021. Semua yang Perlu Anda Ketahui Tentang Kejang Tonik-Klonik. https://www.healthline.com/health/generalized-tonic-clonic-seizure. (Diakses pada 11 Agustus 2022).
  4. Mark, Hedi. 2020. Epilepsi fotosensitif. https://www.webmd.com/epilepsy/guide/photosensitive-epilepsy-symptoms-causes-treatment. (Diakses pada 11 Agustus 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi

About the Author

tigerwebs

Administrator

View All Posts

Post navigation

Previous: Lima Hal yang Harus Dilakukan Dengan Jagung, Tomat, atau Keduanya
Next: Mengenal Apa itu CR (Custom Room) Garena di Free Fire

Related Stories

Dampak Mie Instan Bagi Kesehatan Tubuh
  • Kesehatan

Fakta Mengejutkan Dampak Mie Instan Bagi Kesehatan Tubuh

Akd Webs 16 Februari 2026
olahraga terbaik untuk diet
  • Kesehatan

Olahraga Terbaik untuk Diet dan Berat Badan Ideal

Akd Webs 18 Oktober 2025
Makanan sehat untuk paru-paru
  • Kesehatan

10 Makanan Sehat yang Menjaga Paru-Paru Anda

Akd Webs 19 Maret 2025
  • aplikasi inovatif7 Aplikasi Inovatif yang Harus Dicoba Tahun Ini
  • Teknologi Informasi dan KomunikasiTeknologi Informasi dan Komunikasi: Fondasi Dunia Digital
  • Aplikasi Kesehatan Terbaik10 Aplikasi Kesehatan Terbaik untuk Pantau Kesehatan Anda
  • Teknologi untuk BisnisTeknologi untuk Bisnis: Solusi Efisiensi dan Pertumbuhan
  • tren blockchain 2025Tren Teknologi Blockchain 2025 yang Perlu Diketahui

Arsip

  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • Agustus 2025
  • Mei 2025
  • Maret 2025
  • Januari 2025
  • Desember 2024
  • November 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Januari 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Oktober 2023
  • Juli 2023
  • Juni 2023
  • Maret 2023
  • Februari 2023
  • Januari 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • Oktober 2022
  • September 2022
  • Agustus 2022
  • Juli 2022
  • Juni 2022
  • April 2022
  • Maret 2022
  • Februari 2022
  • Januari 2022
  • Desember 2021
  • November 2021
  • September 2021
  • Agustus 2021
  • Juli 2021
  • Juni 2021
  • Mei 2021
  • April 2021
  • Maret 2021
  • Mei 2020

Kategori

  • Bisnis
  • Ekonomi
  • Energi
  • Finansial
  • Fintech
  • Industri
  • Infografis
  • Infrastruktur
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Properti
  • Ringkasan Berita
  • Sport
  • Technology
  • Travel

Hubungi Kami

  • Beriklan di Sini
  • Hubungi Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Peta Situs

Jangan Melewatkan

aplikasi inovatif
  • Technology

7 Aplikasi Inovatif yang Harus Dicoba Tahun Ini

Akd Webs 18 Maret 2026
Dampak Mie Instan Bagi Kesehatan Tubuh
  • Kesehatan

Fakta Mengejutkan Dampak Mie Instan Bagi Kesehatan Tubuh

Akd Webs 16 Februari 2026
bengkel mobil matic
  • Ringkasan Berita

Bengkel Mobil Matic Spesialis: Nyaman dan Aman

Akd Webs 16 Desember 2025
Teknologi Informasi dan Komunikasi
  • Technology

Teknologi Informasi dan Komunikasi: Fondasi Dunia Digital

Akd Webs 9 Desember 2025
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.